Bikin Bangga Lombok! Gadis 12 Tahun Asal Lotim Taklukkan Panggung Nasional, Kisah di Balik Gaun Merahnya Bikin Kagum

Lombok Timur (inilahlombok) - Kebanggaan kembali datang dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Kali ini, seorang gadis berusia 12 tahun asal Desa Kelayu Utara, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, berhasil mengharumkan nama daerah di panggung nasional.

Syahila Khayrun Najati, yang sukses menyabet gelar Winner Little Miss Grand Model Indonesia 2026 dalam ajang Grand Model Indonesia (GMI)
Dia adalah Syahila Khayrun Najati, yang sukses menyabet gelar Winner Little Miss Grand Model Indonesia 2026 dalam ajang Grand Model Indonesia (GMI) yang digelar di Jakarta, Minggu malam (25/10/2026).

Tak hanya membawa pulang mahkota kemenangan, putri pasangan Fujiana Lestari dan Sahrul Irfan tersebut juga meraih penghargaan Best Evening Gown atau gaun malam terbaik. Syahila bahkan masuk dalam nominasi Talent Competition.

Prestasi ini menjadi pencapaian membanggakan bagi Syahila sekaligus masyarakat Lombok dan NTB. Namun, di balik penampilannya yang memukau di atas panggung, tersimpan cerita panjang tentang kerja keras, dukungan keluarga, dan kreativitas seorang ibu.

Ibunda Syahila, Fujiana Lestari, mengaku tak mampu menyembunyikan rasa harunya ketika mengetahui putrinya berhasil keluar sebagai pemenang.

Baginya, kemenangan tersebut menjadi jawaban atas perjuangan panjang Syahila yang selama mengikuti kompetisi harus menjalani berbagai persiapan dan latihan.

“Enggak bisa diungkapkan, sangat terharu. Melihat perjuangan Syahila yang tidak pernah istirahat dan tidur akhirnya terbayar dengan jadi pemenang,” ungkap Fujiana saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (26/10/2026).

Ketertarikan Syahila terhadap dunia fashion ternyata sudah terlihat sejak kecil. Saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, ia bahkan pernah meraih juara ketiga dalam sebuah perlombaan.

Melihat bakat dan kesungguhan putrinya, kedua orang tuanya kemudian memberikan dukungan dengan memasukkannya ke kelas modeling sejak awal 2025.

Sejak saat itu, Syahila semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan fashion show, catwalk, hingga kompetisi modeling.

Hasilnya pun tidak mengecewakan. Sebelum meraih gelar nasional, Syahila lebih dahulu menyabet gelar Winner Bintang Anak NTB 2026 dan Winner Nona Muda NTB 2026 dalam ajang yang berlangsung di Kota Mataram pada Februari 2026.

“Syahila sejak kecil sudah suka fashion. Jadi, kami sebagai orang tuanya mendukung. Kami yakin Syahila bisa melakukan yang terbaik karena anaknya tidak pernah pantang menyerah dan selalu ingin belajar hal baru,” tutur Fujiana.

Hingga kini, siswi SMPN 1 Selong tersebut tercatat telah mengikuti lebih dari 25 perlombaan di bidang modeling dan sejenisnya.

Menariknya, aktivitas Syahila tidak hanya berkutat di dunia modeling. Di sekolah, ia juga aktif menjadi field commander atau mayoret Drumband Gita Pati serta mengikuti kegiatan senam lantai dalam ajang O2SN.

Gaun Merah yang Dirancang Sendiri oleh Sang Ibu

Ada cerita menarik lain di balik penampilan Syahila pada malam grand final. Selain keberhasilannya membawa pulang mahkota, gaun yang dikenakannya turut menarik perhatian warganet di media sosial.

Foto-foto Syahila ramai dibagikan di Facebook, terutama setelah ia tampil mengenakan gaun merah yang terinspirasi dari busana putri kerajaan.

Rupanya, sebagian besar kostum yang dikenakan Syahila selama mengikuti perlombaan bukanlah hasil rancangan rumah mode. Gaun-gaun tersebut justru didesain sendiri oleh sang ibu.

Fujiana mengaku memiliki kegemaran menggambar sejak kecil. Kecintaannya terhadap ilustrasi putri-putri kerajaan kemudian menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan kostum bagi putrinya.

Cara tersebut juga menjadi salah satu upaya keluarga untuk menekan biaya perlombaan, tanpa mengurangi kreativitas dan kualitas penampilan Syahila.

“Hampir semua kostum yang Syahila kenakan setiap lomba itu saya desain sendiri, tetapi yang menjahit adalah tukang jahit, agar setiap Syahila tampil bisa menghemat biaya,” jelasnya.

Termasuk gaun merah yang dikenakan Syahila pada malam grand final. Fujiana mengaku mendapatkan inspirasi dari ilustrasi putri kerajaan yang selama ini disukainya.

“Termasuk gaun merah yang dikenakan saat grand final tadi malam. Saya terinspirasi dari putri-putri kerajaan yang ada bebek angsanya di belakang. Soalnya, saya dari kecil juga suka menggambar putri kerajaan, jadi inspirasinya dari sana,” tambahnya.

Kreativitas sang ibu menjadi bagian penting dalam perjalanan Syahila. Di tengah kebutuhan mengikuti berbagai kompetisi, ide dan keterampilan Fujiana membantu putrinya tetap bisa tampil dengan kostum yang berbeda.

Bukan Hanya Mengejar Mahkota Kemenangan

Bagi Syahila, mengikuti kompetisi modeling bukan semata-mata tentang mendapatkan gelar juara atau penghargaan.

Ia justru mendapatkan banyak pengalaman berharga, mulai dari meningkatkan rasa percaya diri, mengasah kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking, hingga belajar membangun sikap dan perilaku yang baik.

Syahila mengaku tidak menyangka bisa keluar sebagai pemenang dalam ajang Grand Model Indonesia 2026. Menurutnya, banyak peserta lain yang juga memiliki kemampuan dan penampilan luar biasa.

Namun, doa serta dukungan orang-orang terdekat membuatnya tetap optimistis menjalani setiap tahapan kompetisi.

Dalam kesempatan tersebut, Syahila juga menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga, pihak sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat NTB yang telah memberikan dukungan.

“Alhamdulillah, Syahila mengucapkan terima kasih banyak untuk semua yang sudah mendukung dan menonton Syahila di live streaming kemarin. Hadiah ini untuk orang tua dan masyarakat NTB,” ungkapnya.

Kemenangan Syahila menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan masyarakat Lombok Timur. Dari sebuah desa di Kelayu Utara, ia membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berprestasi dan membawa nama daerah ke tingkat nasional.

Di balik mahkota yang kini berhasil diraihnya, ada kerja keras seorang anak, doa orang tua, dan kreativitas seorang ibu yang turut mengantarkan langkahnya.

Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dari sebuah desa kecil di Lombok Timur.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel