Perang Topat dan Pujawali, Cerminan Perdamaian dan Keberagaman Masyarakat Lombok

Perang Topat ( Ketupat ) merupakan tradisi unik masyarakat Lombok. Bagaimana tidak, tradisi yang satu ini memiliki keunikan tersendiri karena dirayakan oleh dua kelompok keyakinan yakni muslim dan Hindu, acara tersebut merupakan cerminan perdamaian antar budaya dan keberagaman kepercayaan ummat beragama di pulau Lombok.


Perang topat dilaksanakan setiap tahunnya dan biasanya dipusatkan di Pura Lingsar. pada tahun tahun 2019 ini Perang Topat dan Pujawali dilaksanakan pada bulan Desember tahun 2019.

Selain memiliki makna untuk menguatkan tali persaudaraan serta hubungan silaturrahmi antara berbagai latar belakang khususnya Ummat Hindu dan Ummat Muslim event yang satu ini juga memadukan sisi Budaya.


Tradisi perang topat menjadi cerminan rasa syukur masyarakat kepada sang Pencipta atas diberikannya kesuburan tanah, kucuran air dan hasil pertanian yang melimpah ruah.

Masyarakat setempat juga meyakini bahwa acara ini akan memberi berkah dengan turunnya hujan. Sementara ada pula masyarakat yang menyebutkan bahwa upacara ini dilaksanakan atas rasa syukur atas hujan yang di karuniakan oleh yang maha kuasa atas kemakmuran hidup mereka.
Secara fisik di sekitaran Taman Lingsar ini terdapat dua bangunan yang melambangkan persatuan antara Ummat Hindu dan Ummat Muslim yakni Kemaliq dan Pura.

Perang Topat ini merupakan salah satu dari sekian banyak Atraksi Budaya di Pulau Lombok yang diharapkan mampu membangkitkan kembali kejayaan Pariwisata di pulau Lombok pasca Bencana Gempa Bumi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel