Cerita Singkat, mengapa memakan cacing menjadi tradisi turun temurun masyarakat Lombok
Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan
yang diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya.
![]() |
| Putri Mandalika (foto:antarkita.com) |
Sang Raja memiliki seorang putri, namanya Putri
Mandalika. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Di samping anggun dan cantik ia
terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang
putri menjadi kebanggaan para rakyatnya kala itu.
Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif
dan bijaksana yang selalu membantu rakyatnya yang kesusahan. Dan juga
memiliki seorang putri yang kecantikan dan keanggunannya tersohor dari ujung
timur sampai ujung barat pulau Lombok.
Kecantikan dan keanggunan putri mandalikapun terdengar
oleh para pangeran - pangeran dari kerajaan-kerajaan lain di pulau Lombok pada waktu itu, sehingga
para pangeran jatuh cinta pada putri
Mandalika.
Para Pangeran saling mengadu peruntungan, bersaing
ingin mempersunting Putri Mandalika
untuk di jadikan permaisuri, tapi dengan penuh perasaan halusnya, Putri
Mandalika menolak semuanya.
Sehingga membuat para pangeran kecewa, karena
kekecewaan tersebut beberapa pangeran melakukannya dengan berbagai cara,
termasuk dengan ancaman akan di hancurkannya kerajaan putri tersebut bila
lamaran itu ditolaknya.
![]() |
| Cacing ( Nyale ) yang menjadi konsumsi Masyarakat Lombok (foto:hellolombokku.com) |
Akan tetapi pada saat itu Putri Mandalika tidak
bergeming., sehingga dengan kondisi tersebut membuat para pangeran semakin berfikir, bagaimana caranya agar Putri
Mandalika dapat ditaklukkan, bahkan dengan cara mengirim guna-guna ( pelet )
untuk menaklukkan sang Putri.
Singkat cerita tuan putripun takluk dengan guna-guna
yang di gunakan oleh beberapa pangeran, dengan keadaan seperti itu mengakibatkan
tuan putri kurus, jatuh sakit, sampai seisi negeri kerajaanpun disaput duka.
Walaupun putri merasakan hal yang demikian, tetapi
tuan putri juga merasa memikul tanggung jawab yang sangat besar yakni akan
timbul bencana besar manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah
seorang diantara pangeran yang bersaing,
bisa terjadi konflik dari kerajaan ke kerajaan lainnya, dan terjadi pertumpahan
darah.
Deangan keadaan penuh kebimbangan, Putri akhirnya
melakukan persemedian disebuah tempat, sehingga sang putri mendapat jawaban
lewat semedi tersebut.
Putri mendapatkan wangsit, agar mengundang semua
pangeran dalam sebuah pertemuan diwaktu menjelang pagi - pagi butayakni sebelum
adzan subuh berkumandang, dan mereka harus
disertai oleh seluruh rakyat masing - masing, dan semuanya diminta datang untuk
berkumpul di pantai Kuta Lombok.
![]() |
| Patung Putri Mandalika di Pantai Kuta Lombok (foto:imranputrasasak.com) |
Sehingga akhirnya keenam pangeran tersebut datang menghadiri undangan
bersama rakyat yang ribuan jumlahnya.
Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut dari
usia anak - anak sampai kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri
ditempat itu. Pengunjung berduyun - duyun datang dari seluruh penjuru Pulau Lombok, mereka ingin menyaksikan dengan
sendiri bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya.
Saat waktu yang ditentukan tiba, sang putripun
akhirnya muncul dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas dengan
pengawalan yang ketat.
Semua undangan hanya bisa melongo dan terpana menatap kecantikan dan keanggunan Putri
Mandalika.
Tidak lama kemudian, ia berjalan dan berhenti di
sebuah batu, dengan membelakangi laut lepas.
Disana Putri Mandalika berdiri kemudian dan
berbicara singkat mengumumkan keputusannya dengan suara lantang, dan ia
mengatakan, dirinya untuk seluruh rakyatnya, dan tidak dapat memilih salah satu
diantara pangeran yang datang melamarnya.
![]() |
| Masyarakat yang sedang menangkap Nyale (foto:govakansi.com) |
Tanpa diduga - duga sang putri melompat dan
menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan
angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.
Semua rakyat dan
pangeran panik , dan mencari keberadaan sang putri dilaut, dan yang bersamaan
pula muncullah binatang-binatang kecil
yang jumlahnya sangat banyak, binatang tersebut berbentuk cacing laut. sehingga
rakyat menduga binatang itu adalah jelmaan dari Putri Mandalika.
Kemudian rakyat beramai - ramai mengambil binatang
itu untuk dinikmati, sebagai rasa cinta, kasih dan sayang kepada sang putri, sebagai
pesan bahwa sang putri bukan milik kalangan tertentu saja, melainkan sang putri
milik semua rakyat yang dapat dinikmati oleh semua orang.
Nah, begitulah kiranya gambaran singkat Putri
Mandalika yang menjelma menjadi Nyale ( cacing laut ) dan menjadi tradisi turun
- temurun di pulau Lombok.
Hingga saat ini acara Bau Nyale ( menangkap cacing
laut ) selalu dilangsungkan dan diperingati setiap tahunnya pada bulan Februari
atau Maret, sejak sore hari masyarakat yang akan menangkap Nyale berkumpul di
pantai di daerah Selatan Lombok mengisi acara dengan berbagai macam kegiatan,
hingga nanti masyarakat turun bersama-sama ke laut menjelang pagi tiba saat
Nyale keluar dari celah-celah dan Lubang karang yang ada di Laut, kemudian
hasil tangkapan tersebut dibawa pulang untuk dimakan di jual dan di jadikan
pupuk sawah, karena masyarakat meyakini, nyale tersebut bisa mendatangkan
hasil panen yang berlimpah ruah.
Semoga bermanfaat, Like dan Share ya..!!!



